
Jumat, 30 Mei 2008

MENGAPA PENDIDIKAN
Hari pendidikan nasional yang diselenggarakan setiap tanggal 2 Mei bukan hanya peringatan ritual untuk mengenang Ki Hanjar Dewantara sebagai Bapak pendidikan Indonesia, akan tetapi 2 Mei merupakan momentum yang tepat untuk mengingat dan merefleksikan pendidikan di Indonesia selama ini.
Peringatan hari pendidikan nasional 2 Mei 2008 saat ini ditengah-tengah ujian nasional yang sebagian masyarakat
Polemik setuju tidaknya ujian nasional diadakan atau tidak, bukanlah jalan keluar dari keterpurukan bangsa ini akan pendidikan. Mungkin orang sudah lupa bahwa output pendidikan bukan hanya nilai normatif saja akan tetapi lebih jauh dari itu memanusiakan manusia. Nilai yang tinggi bagi seorang anak belum tentu dapat menjadikan kesuksesan di kemudian hari. Banyak faktor lain yang menentukan keberhasilan seseorang.
Memang walau bagamanapun pendidikan harus diukur oleh standarisasi yang dapat teruji seperti ujian nasional sebagai salah satu alat ukur keberhasilan pendidikan suatu negara, akan tetapi sebaiknya bukan satu-satunya alat ukur untuk menentukan lulus atau tidaknya. Kekhawatiran ketidaklulusan seorang peserta didik sangat menghantui guru dan orang tua sehingga banyak terjadi bocornya kunci jawaban ujian nasional. Bahkan jika dibiarkan akan menjadi penyimpangan sosial skunder, bahwa perbuatan tersebut tidak lagi dikatakan sebagai perbuatan buruk akan tetapi dapat dilegalisasikan demi kepentingan peserta didik
Reformasi pendidikan hendaknya berasal dari LPTK yang menyelenggarakan dan mencetak guru. Guru bukan profesi kelas 2 atau lebih rendah dari itu. Kita bisa buktikan berapa persen siswa SMA yang akan melanjutkan pendidikan guru? Mungkin mereka hanya mengambil jurusan pendidikan karena tidak diterima dari jurusan lain yang lebih elit menurut mereka. Mereka lebih memilih menjadi dokter, insinyur atau bahkan sekretaris sebagai pekerjaan administratif ketimbang bertanggungjawab atas pendidikan bangsanya sendiri menjadi guru.
Mudah-mudahan hari pendidikan nasional 2008 ini sebagai titik tolak untuk membangkitkan dunia pendidikan
Jika kita merujuk ke atas, maka pendidikan menjadi dalam bahaya ketika pendidikan justru membuat kita tidak mengenal persoalan-persoalan di sekitar kita. Menjadi pertanyaan ketika misalnya dalam pelajaran membaca murid SD di seluruh Indonesia yang dikenal adalah nama Budi dan Wati, Wati kakaknya Budi. dsb. Padahal bisa jadi di Irian, di Aceh, di Maluku, dll, tidak ada yang bernama Budi dan Wati. Murid-murid SD dikenalkan bukan kepada apa yang ada di sekitarnya. Murid-murid SD mulai diarahkan untuk tidak berpijak di buminya.
Jika boleh aku meminjam pemikiran Freire sebagai pisau analisa (walaupun dia menggunakan dalam konteks masyarakat Brasil), kasus seperti diatas bukanlah sekedar persoalan belajar membaca, tapi merupakan suatu usaha halus untuk menjauhkan seseorang dari lingkungan. Suatu grand design agar orang-orang tidak tahu bahwa ada persoalan disekitarnya. Seseorang dipintarkan untuk suatu hal, tetapi terjadi pembodohan untuk hal yang lain. Orang-orang dicerahkan pada satu sisi, tetapi dibutakan untuk sisi-sisi yang lain. Maka jangan heranlah bila di lingkungan pejabat negara, dikantor-kantor birokrasi ,di perusahaan-perusahaan, bahkan di dunia pendidikan itu sendiri, banyak orang pintarnya. Tapi justru disanalah sering diproduksi ketidakadilan.
Pendidikan Menjadi Alat Kepentingan
Pendidikan juga akan menjadi kehilangan fungsi pencerahannya bila mana dominasi kepentingan berbagai pihak demikian kuatnya. Tidak heran sekolah atau kampus berubah fungsi menjadi seperti pabrik-pabrik yang bekerja secara sistematis dalam memprodukasi lulusannya. Murid atau mahasiswa termekanisasi ke dalam system yang bergerak diluar kekuasaannya, bahkan mungkin dosennya. Ibarat bahan baku yang diolah menjadi bahan jadi lalu kemudian di lempar ke pasar industri. Bahan baku ini dirancang dan diolah sebagaimana trend atau kebutuhan pasar. Pasar membutuhkan apa? Nah itulah yang harus kita pelajari.
Apa yang akan kita pelajari bukan memang apa yang mau kita pelajari. Tapi apa yang orang lain (industri/ pasar/ politik/ bisnis/ dan segala kepentingan lainnya) mau kita balajar apa. Kita tidak merdeka dengan pilihan-pilihan kita sendiri.
Senin, 26 Mei 2008
Cerita Penggelitik perut
Kisah pengemis dan mahasiswa
Seorang mahasiswa sedang asyik berbicara dengan seorang pengemis tua di depan kampus UITM.
Mahasiswa : "Sudah lama mengemis di sini pakcik?"
Pengemis : "Ya... lebih kurang sudah 8 tahun , nak
Mahasiswa : Wah, sudah lama juga ya pakcik..sehari biasanya
dapat berapa pakcik?"
Pengemis : "Paling sedikit RM 50.00 nak ..."
Mahasiswa : Banyak juga ya pakcik
Pengemis : "Bolehlah nak, untuk keluarga..."
Mahasiswa : "Ehhhh...keluarga ada di mana?"
Pengemis : "Anak pakcik semuanya ada 3 orang, yang pertama
ada di Universiti Putra Malaysia di Selangor, yang
kedua ada di Universiti Utara Malaysia di Kedah
dan yang ketiga di Universiti Sains Malaysia di
Penang..."
Mahasiswa : "Subhanallah, hebat-hebat keluarga pakcik
ni...boleh tahan juga yerrr.. Eh..Anak pakcik tu
semuanya masih kuliah?"
Pengemis : "Tak arrrrrr....semuanya mengemis seperti
pakcik..."
r!3pl0bl13k 53l3b

![]()

Bayangkan negeri ini diperintah oleh para selebriti. Pasti semua rakyat terhibur setiap hari. Hidup tenteram, tak ada demo, tak ada privatisasi dan yang penting, tak ada kenaikan harga BBM dll yang memusingkan. Bagaimana kalau presenter berita SCTV Arief Suditomo kita jadikan presiden yang memimpin sebuah kabinet bernama Kabinet Seleb.
Saudara-saudara, dengan ini mari kita umumkan susunan Kabinet Seleb, berdasarkan simulasi yang telah beredar luas di internet hari-hari ini, seiring dengan naiknya harga BBM dll yang makin memberatkan rakyat. Jika demo sudah tidak didengar –dan hanya bikin macet saja- maka mending berandai-andai mengganti pemerintah yang sekarang dengan pemerintahan baru yang bercita rasa infotainmen. Dijamin lebih josss trasa minum extra joss.
Presiden: Arief Suditomo (punya jiwa kepemimpinan dan elegan meski kadang-kadang suka grogi sendiri kalau ketemu jaksa agung)
Wakil Presiden: Sandrina Malakiano (pembawaan dan tutur bahasanya kalem, punya jiwa keibuan, dan bisa meneduhkan hati rakyat)
Menko Polkam: Andi Malarangeng (gerak kumisnya mampu membuat ibu-ibu histeris)
Menko Ekonomi: Log Zhelebour (menangani grup Jamrud saja sukses, serta piawai menggelar konser rock keliling
Menko Kesra: Nurul Arifin (lewat aktivitasnya dalam persoalan perempuan dan kepeduliannya terhadap masalah HIV/AIDS, integritasnya tak perlu diragukan lagi)
Menteri Dalam Negeri: Koes Hendratmo (motonya: berpacu dalam otonomi!)
Menteri Luar Negeri: Angelique Widjaya (jangan tanya sudah berapa kali keliling ke berbagai negara dan mengharumkan nama bangsa)
Menteri Pertahanan dan Keamanan: Harry Roesli (lebih sangar dari preman terminal, tapi lebih lucu dari Amrozy cs)
Menteri Kehakiman: Alfina Rosa Damayanti (presenter acara Patroli di Indosiar yang sudah siap dengan perpu anti kriminal untuk para penjahat)
Menteri Informasi dan Komunikasi: Indra Safera (acara yang dibawakannya, Ngobras mengharukan banyak orang, diharapkan dia juga bisa bikin terharu anggota DPR saat rapat kerja)
Menteri Keuangan: Dick Doank (3 menit saja wank wank wank = Rp 500.000, hitung sendiri berapa miliar kalau sehari kalau membawakan acara?)
Menteri Perdagangan dan Industri: Mira Lesmana (trigger: Ada Apa dengan Perdagangan?)
Menteri Pertanian dan Kelautan: Garin Nugroho (dari filmnya, “Daun di Atas Bantal” atau “Cinta dalam Sepotong Roti”, terlihat Garin suka sekali suasana pedesaan dan indahnya pantai)
Menteri Pertambangan dan Energi: Ruhut Sitompul (siapa tak kenal Poltak si Raja Minyak dari
Menteri Kehutanan: Eddy Brokoli (dari model rambutnya saja sudah menandakan, dia anti gundul)
Menteri Pekerjaan Umum: Rano Karno (selain dikenal sebagai artis yang buka warung, dia juga seorang tukang insinyur tapi sekarang menjabat sebagai wakil bupati)
Menteri Perhubungan: Dewi Hughes (Ingin jalan tol gratis, tariff telepon murah? Mimpi kali yee....)
Menteri Pariwisata dan Budaya: Djaduk Ferianto (sinten remen, semoga Bali khususnya dan
Menteri Koperasi: Ulfa Dwiyanti (masyarakat yang jadi anggota koperasinya akan laris manis. Kocok-kocok, kocok teruusss!)
Menteri Tenaga Kerja: Raam Punjabi (pencetak tenaga kerja di dunia sinetron)
Menteri Transmigrasi dan Pemukiman: Taufik Savalas (edisi tok tok wow ramadhan bakal ada proyek bagi-bagi hadiah rumah di setiap propinsi yang dikunjungi,namun kini dia telah tiada,mari kita doakan supaya dia di terima yang Kuasa)
Menteri Pendidikan: Helmy Yahya (siapa berani adu pintar soal kurikulum dengan dosen STAN ini?)
Menteri Kesehatan: Titiek Puspa (terbukti tetap fit di usia yang udah masuk dalam
Menteri Agama : UJ (pengalaman: paling dicari stasiun TV selama bulan puasa. Untungnya bisa populer bukan karena kasus kayak menteri agama sekarang yang dicari gara-gara bongkar situs purbakala)
Menteri Sosial: Tika Panggabean (misi utamanya tentunya bikin surprise warga yang tengah tertimpa musibah, dengan cara bagi-bagi mobil Porsche!)
Menteri Sekretaris Negara dan Jubir Presiden: Deddy Gumelar alias Miing Bagito (wartawan nggak bakalan stress, headline koran tiap hari lucu-lucu)
Menteri Riset dan Teknologi: Dewi Lestari (novel pertamanya, “Supernova” kental muatan iptek)
Menteri Investasi dan Ketua Bappenas: Roni Sianturi (selain jadi presenter terbukti sukses juga berinvestasi buka warung tenda)
Menteri Lingkungan Hidup: Nugie (apa predikat sebagai duta wwf kurang meyakinkan?)
Menteri BUMN: Meutia Kasim (bekas penyiar yang sukses jadi direktur grup MRA)
Menteri Peranan Wanita: Inneke Koesherawati (patut dicontoh bahwa emansipasi bukan berarti boleh pakai baju seksi)
Menteri Pemuda dan Olahraga: Ade Rai (seandainya saja postur para pemuda polisi di
Jaksa Agung: Ira Koesno (buat para koruptor, konglomerat hitam, dan penegak hukum yang bejat moral, jangan harap bisa lolos dari senyuman maut dan cecaran investigasinya yang begitu aktual, terpercaya, dan tajam,setajam silet )
Gubernur BI: Tantowi Yahya (who wants to be millionare? nabung dong!)
